Matahari tengah bulan Juni panas menyengat. Gelombang ombak berdebur memecah pagi menjelang siang. Angin laut menghembus pantai tak berpenghuni, kecuali dua anak manusia yang sedah diterjang indahnya cinta. Jejak kaki kita, dua pasang kaki manusia di sana sini di pasir hangat abu-abu. Langit luas dengan semburat awan putih bak kapas. Dua makhluk yang berbeda itu saling berpaut. Menata hati. Satukan jiwa. Mengalir cinta yang indah. Bergulat disaksikan laut yang bisu.
Kali Itu langit cerah sekali. Matahari sudah hampir setengah. Ombak besar, dengan angin lumayan kencang menyapu beberapa rumput laut di pasir abu-abu itu. Terlihat beberapa burung camar mengintip pertemuan mesra kita. Sejuk disapu angin. Kita masih asyik melepas rindu yang kemarin sesak dalam hingar bingar dunia, atmosfer kemesraan yang datang perlahan. Dimulai dengan bertemunya dua pasang bola mata hitam kita, matamu mengajakku tuk saling beradu, indah. Sedikit mulai terpejam pelan, rasa merasuk tembuskan dinding kekakuan. Menjadi lebih satu. Satu. Serpihan sepiku beberapa waktu lalu seakan lupa. Belaian lembut lunakkan yang awalnya keras, bangkitkan yang tadinya terpuruk. Angin masih saja memanjakan kita meraba tiap sudut, indah. Terbuka terpejam. Terasa begitu satu. Siang indah, satu.
Kau ajak aku bangun dan kembali menyusuri pantai ini. Sesekali kau tarik aku dari kejaran ombak yang mencoba membasahiku. Di sana sini masih hanya kita saja, pantai milik kita berdua. Waktu terasa cepat, bola matahari mulai tertelan laut di ujung sana, aku dan kau masih bersama, terbaring di bawah pohon cemara kecil tapi teduh ini. Selalu kau bisikkan kata-kata itu, “Biarlah kita akan selalu menjadi catatan pantai dan laut ini, Sayang.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar