Ada senja yang menerka-nerka rupamu
Dalam lintas tak tertembus mata
Hangat senja juga tak jengah mengantri untuk menera
Ya, menera ayumu yang selalu mendayung alam tak sadarku
Pagiku, ya, kau pagiku
Ada rentetan doa yang kukirim lewat malaikat saban hari tak kenal
waktu
Berbaris-baris atas harap senja
Senja menyukaimu, Pagi
Dia selalu mengharap untuk mampu memelukmu
Tapi Pagi dan Senja rasa-rasanya sulit untuk berpeluk
Ada siang dan malam yang halangi
Sekalipun begitu
Senja tetap bisa memelukmu dalam temaramnya
Menunggumu datang tuk hangatkan kembang-kembang itu
Wahai Pagi,
Akulah Senja itu.
Selalu mencangkummu dalam kata-kata yang dikirim untuk Tuhan
Saat siang dan malam, ketahuilah…
