Sandal adalah peranti kecil tapi dibutuhkan semua orang. Mulai dari
anak kecil, remaja, orang dewasa, rakyat biasa, pedagang, tukang becak,
pejabat, ibu-ibu, bapak-bapak, simbah-simbah, bahkan presiden pun butuh
sandal. Kemanapun kita pergi, hendaknya memakai sandal untuk
menghindari kontak langsung antara telapak kaki kita dengan tanah atau
dinginnya lantai dan menjaga kaki kita agar tidak menginjak mbel*k sehingga
kaki tetap cling dan suci. Sebagian orang pun tidak hanya
memperhitungkan fungsi utama sandal itu sendiri, tapi sekarang juga
memperhatikan style. dan sekarang pun model sandal semakin
bermacam-macam. Ada yang berhak puluhan centimeter, ada yang tipiiiiss,
ada yang bahannya dari karet, plastik, kayu, bahkan kain flanel yang
dalam pandangan saya kalau kena air jadi ntrembes nggak rupo. Sekarang
juga ada sandal yang tulisannya aneh-aneh. WOLES, I love you, dan
apalah yang lain. Ada juga sandal yang antara kanan dan kiri warnanya
beda. Anti mainstream katanya.
Tapi ada sebagian kalangan yang tidak terlalu mempermasalahkan style dalam bersandal, atau itu malah style tersendiri ?
sandal selen.
Santri,
mbak-mbak atau mas-mas pondok di sebagian besar pondok pesantren yang
pernah saya temui, biasanya tidak asing lagi dengan istilah sandal
selen. Mereka sering bahkan hampir selalu memakai sandal selen di setiap
kesempatan di dalam lingkungan pondok.
Sebenarnya apa sih sandal selen itu??? Selen bisa dilihat dari berbagai kategori :
- selen warna dan corak. Yang kanan merah bunga-bunga, yang kiri item gambar tengkorak. Pasangan yang kurang serasi.
- selen merek. Si sandal kanan mereknya paijo, yang kiri merek gracia. Hmm, itu juga kurang Pas.
- selen ukuran. Kenyamanan berjalan juga ditentukan oleh pasnya ukuran kaki dan sandal, kalo kaki biasanya pake sandal ukuran 38, tapi kalo yang kiri pake ukuran 35, yang kanan pake ukuran 40, bahaya. Dikhawatirkan kaki kiri akan lecet, dan sandal yang kanan bisa kepidak-pidak kancane. Bahaya.
- selen ketebalan . anda ingin terlihat tinggi? Meskipun badan pas-pasan? Mungkin menggunakan sandal berhak tinggi bisa menjadi solusi alternatif. Tapi kalo kanan kiri tingginya beda? Yang kanan high-heel berketinggian 15 cm, yang kiri sandal cepit swallow srampat abang yang sudah tipis sampai keliatan merah-merahnya. Selain itu menyakitkan mata yang memandang, tapi juga terasa njomplang untuk berjalan, dan menjadi tidak seimbang saat berjalan.
- Selen jenis kelamin. Meskipun sandal nggak ada jenis kelaminnya, tapi sebagian besar orang bilang kalau ini sandal cowok dan ini sandal cewek. ( maksudnya untuk cewek / cowok )
- yang lebih aneh kanan semua, atau kiri semua, pokoe ra pas kanggo sikil -__-. Dalam situasi tertentu memang kadang kita tidak memerhatikan mana yang kanan dan mana yang kiri. Jadinya malah kanan semua, atau kiri semua. Weleh.
Lalu bagaimana bisa adanya sandal selen seperti di atas ?
Sebagian
besar santri yang datang ke pondok pertama kali pasti membawa sandal
sendiri. Setelah beberapa waktu di pondok, sandal tersebut akan
bergabung dengan sandal yang lain yang sudah selen. Mungkin karena
kurang kehati-hatian si pemilik sandal , sandal tersebut yang tidak
selen akan mencari pasangan lain yang sebenarnya tidak serasi dengan
dirinya. L
Sebenarnya peristiwa sandal selen ini
sangat dekat dengan kasus GHOSOB. Menurut saya, ghosob sudah menjadi
habit yang luar biasa terjadi di sebagian pondok. Tidak hanya sandal
yang dighosob, tapi sebagian besar kasus ghosob yang saya temukan adalah
sandal. memang, ghosob itu hanya memakai tanpa izin dalam waktu yang
tidak lama, tapi jika kejahatan ini dibiarkan terus menerus, bisa
berakibat sangat fatal. Misalnya begini. Si A mau ke musola. Dia nggak
punya sandal karena dia juga korban perghosoban. Lalu dia asal make
sandal yang ada di dekat pintu. Memang dia berangkat memakai sandal yang
serasi. Setelah dia hendak keluar dari musola, dia tadi lupa pakai
sandal apa, asal pake, yang kanan memakai sandal yang tadi, yang kiri
memakai sandal yang lain, karena mungkin kesampar-sampar. Hoho. Itu baru
sepasang sandal. Lalu bagaimana kalau itu terjadi pada banyak pasang
sandal? Misal ada 100 pasang sandal, mungkin bisa menjadi 100 pasang
sandal yang berbeda-beda. Waw.
Tapi yang lebih
ngeselin kalo kita udah mengamankan sandal kita di tempat yang legal,
rak misalnya, kok ya masih ada yang ghosob sandal kita. Apa perlu kita
tulisi DONT GHOSOB! Gitu? Tapi meskipun ada tulisannya kayak gitu
mungkin kalo udah jadi kebiasaan ya tetep aja dighosob. Lalu pas kita
mau pakai sandal itu buat pergi, eh sudah dighosob orang, kita nggak
punya sandal lain, terus lagi nggak ada orang disitu yang bisa dipinjem,
lagi keburu-buru, ya sudah, perghosoban terjadi lagi! Lalu nanti siapa
yang nggak ghosob?
Ada pelaku ghosob yang sedikit bertanggung
jawab dengan mengembalikan sandal ke tempat semula dalam keadaan baik.
Apalagi kalo diselipkan tulisan “makasih nggeh mbak sandalnya “ ghosob
yang lebih bijak. Lalu, tersangka yang ngawur? Sudah ngghosob, sandal
kotor nggak dibersihkan, ditaruh di sembarang tempat, malah pedot barang. Ya
kalau si pemilik sandal lapang dada, kalau malah misuh misuh terus
disumpahin kakine kesandung ? Naudzu billah.. dan akhirnya
ujung-ujungnya ya tadi, lahirlah sandal sandal selen yang nanti lama
lama menumpuk di pinggiran tanpa pemilik yang jelas ( si empunya udah
males ngrusin karena sandalnya nggak ada pasangannya )
Lalu, bagaimana solusi yang tepat???
Menurut
saya, hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus. Guna mencegah hal
yang tidak diinginkan. Jadi, langkah utama yang harus kita lakukan
adalah JANGAN GHOSOB. Kalau nggak punya ya pinjem dan dijaga. Minimal
harus punya sandal cepit buat sekedar pergi ke KM, dapur, warung, atau
tempat manapun di sekitar pondok. Setelah punya, ada baiknya diberi nama
agar tidak tertukar, dijaga dan ditata rapi di tempat yang cucok.
Sehingga kasus sandal selen bisa terkurangi. Aamiin
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Stop ghosob! No Selen ! cling
Mohon maaf dan Maturnuwuuuunnn